Diujung sebuah jalanan sempit terlihat dipelataran kedai (warung) kopi sekerumun lelaki berkopyah (songkok) yang sedang asyik duduk bersila, melipat kakinya di sebuah hamparan karpet warna merah pada panggung tripleks (kayu lapis) yang tak lebih tinggi dari lutut lelaki dewasa. Mereka duduk memutar mengitari kopi-kopi yang telah tertuang. Selalu terdengar lirih kencang canda tawa dari mereka. Bagi masyarakat sekitar keberadaan warung kopi diujung gang itu sebagai pemandangan riang ditiap pagi, sore dan malamnya.Aku mencoba lebih dekat dengan mereka. Hampir ditiap malam aku selalu menyapa dan bergabung dalam lingkar duduk mereka. Banyak obrolan yang terlahir melalui secangkir kopi ini. dari obrolan kasar, sopan santun selayak ceramah agama, masalah keluarga, perbincangan desa, politik, sosial, budaya bahkan hingga jadwal pertandingan bola. Sungguh terasa kehangatan mereka sehangat kopi yang tersaji, seakan sebuah kedekatan dan keakraban yang diciptakannya terkadang menghilangkan perbedaan usia dan status sosial namun tetap tidak menghilangkan rasa santun, hormat dan menghormati. Dalam sempitnya panggung warung kopi ini kurasakan luasnya dunia, jauh dan tajamnya pandangan mata juga pekanya pendengaran telinga.
Sungguh warung kopi ini tak ubahnya sebuah jendela dunia, selayak fungsi buku pelajaran, majalah, tabloid, koran bahkan seminar dan pengajian agama yang selalu up to date mengikuti perkembangan jaman.